Orbion Institute – Bagi sebagian keluarga di Indonesia, beras bukan sekadar makanan pokok, tapi juga simbol ketenangan. Namun sejak beberapa bulan terakhir, harga beras medium maupun premium tetap berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Meski panen sudah berlangsung, turunnya harga belum terasa di pasar.
Seorang ibu rumah tangga di Jakarta mengaku kini lebih sering membeli beras dalam jumlah kecil. “Biasanya beli karung 10 kilo, sekarang cuma 5 kilo dulu. Mau nggak mau harus hemat,” katanya. Strategi lain yang dilakukan keluarga adalah lebih banyak mencampur beras dengan lauk sederhana agar masakan tetap cukup untuk semua anggota keluarga.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana harga pangan yang naik bisa langsung menghantam dapur rakyat. Tidak hanya rumah tangga, pedagang nasi juga ikut pusing karena biaya produksi meningkat. Ada yang akhirnya mengecilkan porsi, ada juga yang terpaksa menaikkan harga.
Pemerintah sebenarnya sudah berupaya dengan menyalurkan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) lewat Bulog. Tapi distribusinya di beberapa daerah masih belum merata. Ekonom menilai, jika situasi ini terus berlarut, daya beli masyarakat bisa semakin tergerus.
Harapan kini tertuju pada musim panen berikutnya dan percepatan distribusi beras murah. Sementara itu, masyarakat kecil harus pintar-pintar mengatur belanja agar dapur tetap ngebul.
Ditulis oleh Aizan
Sumber gambar: http://unsplash.com/photos/a-pile-of-white-rice-sitting-on-top-of-a-table-M5hX7319EBA
Sumber Berita: Tempo (2025)



