Orbion Institute – Kabar baik datang di penghujung Agustus: harga BBM non-subsidi resmi turun. Pertamina mengumumkan harga Pertamax turun menjadi Rp12.800 per liter dari sebelumnya Rp13.500, sementara Pertamax Turbo ikut turun hingga Rp14.400 per liter. Penyesuaian harga ini berlaku di seluruh SPBU Pertamina sejak 1 September.
Meski penurunan ini hanya berlaku untuk BBM non-subsidi, dampaknya tetap terasa bagi sebagian masyarakat, terutama pemilik kendaraan pribadi dan pelaku usaha kecil yang masih mengandalkan Pertamax. Dengan harga yang lebih murah, biaya transportasi sehari-hari jadi sedikit lebih ringan.
Seorang pengemudi ojek online di Jakarta mengaku cukup senang dengan kabar ini. “Lumayan, bisa hemat sekitar Rp20 ribu seminggu. Buat kami yang narik tiap hari, itu besar pengaruhnya,” ujarnya.
Pemerintah menjelaskan penurunan harga ini sejalan dengan turunnya harga minyak dunia yang sempat stabil di bawah USD 75 per barel. Pertamina menegaskan bahwa harga BBM akan terus dievaluasi mengikuti perkembangan global dan nilai tukar rupiah.
Bagi masyarakat, meski penghematan yang dirasakan tidak terlalu besar, setidaknya ini memberi ruang lega di tengah tingginya biaya hidup. Ongkos operasional kendaraan pribadi maupun usaha transportasi jadi lebih terkendali.
Namun demikian, masih ada harapan dari masyarakat agar harga BBM subsidi, khususnya Pertalite dan Solar, bisa tetap stabil. Sebab, mayoritas pengguna transportasi umum dan kendaraan roda dua masih sangat bergantung pada BBM jenis tersebut.
Penurunan harga BBM non-subsidi ini menjadi pengingat bahwa fluktuasi energi global selalu berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Harapannya, kebijakan energi Indonesia ke depan bisa semakin berpihak pada masyarakat luas sekaligus menjaga kesehatan fiskal negara.
Ditulis oleh Aizan
Sumber gambar: https://unsplash.com/photos
Sumber Berita: Pertamina, Kompas.com (Agustus 2025)



